Posted by : Mochine Aika Thursday, 2 March 2017

Just Be Friend


‘Berteman saja! Ya berteman! Walau menyakitkan! Berteman saja!’

Pagi cerah telah tiba disambut oleh kesibukan orang-orang biasanya. Suasana kota sedikit demi sedikit menjadi ramai dan padat orang serta kendaraan. Rika, gadis berumur 16 tahunan tengah berjalan santai di trotoar jalan sambil memakan roti berselai cokelat. Sesekali ia harus menghindari tabrakan kecil yang dilakukan oleh beberapa orang yang terlihat terburu-buru. Pandangannya begitu sayu. Manik kehijauan miliknya terus memandang kearah depan. Fokus.
“Andai saja aku tidak ceroboh, pasti aku tidak akan salah membaca jam tadi” gumamnya pelan sambil mengambil sebotol air mineral dari tas sekolahnya. Ia teguk air itu hingga menyisakan setengah botol. Ya, kini Rika tengah berjalan menuju sekolah. Langkah kecilnya seketika berhenti ketika melihat sesuatu yang tak asing baginya. Surai pirang sebahu dan tas merah dengan garis hitam. Rika menghela nafas malas tahu bahwa itu adalah teman sekelasnya sekaligus temannya sejak menduduki bangku SMP. Dengan langkah yang ogah-ogahan Rika menyusul si surai pirang itu.
“Misa” ucap Rika sambil menepuk bahu si pirang yang ternyata bernama Misa. Misa sama sekali tidak menoleh ataupun merespon ucapan Rika. Merasa terabaikan, Rika mengerucutkan bibirnya kemudian melihat kearah wajah Misa. Raut Rika kini menampakan kebingungan. Ekspresi Misa sama sekali tidak menampakan keceriaan seperti hari-hari biasanya. Misa tampak muram dengan tatapan kosongnya. Manik kecoklatannya terlihat redup bagaikan lampu yang akan mati. Expired.
“Rika…” panggil pelan Misa sambil menoleh kearah Rika dengan tatapan menyedihkan. Rika hanya menaikan sebelah alisnya dengan arti ‘ada apa?’. Misa menunduk lalu menghentikan langkahnya.
“Aku harus apa…. Aku.. Aku.. jatuh cinta!”
Serasa mendengar kutukan maut, telinga Rika serasa sakit mendengar perkataan Misa yang meninggi seketika. Diusapnya pelan daun telinga miliknya kemudian menatap Misa tak percaya. Mana mungkin seorang Misa yang ceria,tomboy,benci pada laki-laki bisa jatuh cinta? Apa jangan-jangan Misa tak normal?. Dengan segera Rika menggeleng cepat menghilangkan semua pikiran buruknya.
“jatuh cinta?! Yang benar saja! Dengan siapa?” sembur Rika pada Misa yang kembali berjalan. Misa menoleh kearah lain berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. Merasa dibuat heran dan penasaran Rika terus memerhatikan Misa hingga tidak sadar kalau di depannya ada tiang listrik.
BRUUK!
Dengan sekali tercium oleh tiang listrik, Rika jatuh terduduk sambil mengelus tulang pipi kanannya dan mengaduh kesakitan. Tanpa mempedulikan pandangan orang lain yang mulai mengarah kepada dua sejoli ini.
“siapa yang menaruh tiang listrik disini hah?!” kesal Rika sambil berdiri dan melihat kanan dan kiri. Dengan bodohnya ia melontarkan pertanyaan itu membuat setiap orang yang mendengar menatapnya dengan tatapan konyol. Melihat kekonyolan temannya, Misa pun segera berbisik pada Rika.
“kau bodoh? Tiang ini memang ada disini sejak lama. Dan lihat! Kau jadi pusat perhatian tau!” bisik Misa sambil menjitak Rika diakhir katanya. Rika meringis sakit dan beralih mengelus kepalanya sambil melihat sekitar. Merasa malu jadi pusat perhatian, Rika segera berjalan cepat meninggalkan tempat itu dengan menarik tangan Misa.


“Hwahh! Malunya aku saat dijalan tadi” ucap Rika sambil mendudukkan dirinya dikursi kelasnya secara kasar. Misa menaruh tas merahnya diatas meja yang berada didepan Rika. Melihat temannya yang memasang tampang konyol dengan sedikit rona merah dipipi. Misa pikir Rika akan masa bodo pada kejadian tadi. Yang Misa kenal Rika adalah orang yang tidak peduli pada apapun kecuali cerita horror dan sadistic.
“kamu sih..-“ ucap Misa terpotong tiba-tiba oleh jejeritan para siswi yang bergerombol didepan pintu masuk kelas. Misa tahu penyebab dari jejeritan alay para siswi tersebut yaitu karena si 2-A Prince. Seketika Misa langsung membereskan rambutnya yang mungkin berantakan menurutnya. Melihat itu, Rika menghela nafas malas. Rika juga tau mengenai penyebab jeritan alay siswi kelas 2-A tapi, Rika sama sekali tidak peduli dengan apa yang dinamakan 2-A prince. Menurutnya itu hanya julukan keberuntungan yang didapat oleh siswa bernama Rei. Memang, Rika akui dia lebih unggul dibandingkan siswa lain di kelas 2-A, kelas dimana Rika selalu menuntut ilmu secara normal. Rei sangat unggul dalam Rank kelas, olahraga dan lainnya. Bahkan hampir semuanya. Dan parasnya juga tampan. Semua itu menjadikan Rika nomor dua dikelasnya dan mendapat julukan Princess Ice. Rika yang selalu cuek,bersikap dingin,jenius dan hampir sama dengan Rei namun ketertutupan Rika yang menjadikannya nomor dua.
Rika menatap malas pintu kelas dan Misa didepannya secara bergantian. Rika sadar bahwa seharusnya Misa menjadi salah satu diantara gerombolan siswi yang menjerit alay itu. Walau Misa sangat membenci laki-laki, Misa sama sekali tidak membenci Rei dan pernah bilang bahwa ia sangat mengaguminya dan rela melakukan apa saja demi Rei. Hei! Tunggu! Apa saja? Jangan-jangan…

TO BE CONTINUED!

{ 2 comments... read them below or Comment }

- Copyright © Mochine Chan - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -