Posted by : Mochine Aika Saturday, 18 February 2017

Genre : hurt(?)

Suatu pagi disebuah rumah, terlihat seorang gadis bersurai cokelat tengah duduk di sebuah kursi dekat jendela yang terbuka.
“Cahaya matahari pagi itu indah sekali”. Katanya sambil memandang keluar jendela.
“Hei! Kau tidak bosan hah?, setiap pagi kau terus memandangi matahari itu!” celoteh sang kakak dari gadis tadi sambil menyisir rambutnya.
“Tidak Ami-neeChan” geleng sang adik sambil tersenyum.
“Hufffth, yasudah. Aku ingin kerumah sakit dulu ya. Jika kau merasa tidak enak sendirian dirumah, jalan-jalan saja dengan temanmu si Yuika itu. Atau jika kau lapar, pergi saja ke kedai Ramen” Kata Kakaknya yang bernama Ami itu. Sang adik pun mengangguk.
“oke! Dadah Namika…” kata Ami lalu pergi meninggalkan Namika sang adik dirumah sendirian.
“Huffth! Kenapa Ami-neeChan selalu meninggalkanku? Padahal, aku tahu kalau hari ini dia libur dari tugas rumah sakitnya. Bilang saja jika dia mau pergi kerumah Kyouya-nii! Huh” Namika cemberut sambil berceloteh tentang kakaknya itu. Saat Namika sedang berceloteh tidak jelas, pintu rumahnya terbuka dan menampakkan seorang laki-laki bersurai cokelat gelap. Melihat itu, raut wajah Namika yang cemberut langsung berubah drastic menjadi sangat ceria.
“Akito-nii!!!” jerit riang Namika berdiri lalu berlari kearah laki-laki itu kemudian memeluknya. Akito adalah kakak laki-laki Namika yang sangat tegas dan baik hati.
“Wah, sepertinya kau rindu sekali denganku”. Ucap Akito sambil membalas pelukan adiknya lalu mengelus kepala Namika dengan sangat lembut.
“Tentu saja! Akito-nii sudah pergi selama 8 bulan tahu!” kata Namika.
“Selama itu kah? Hehehe, maaf yah” Kata Akito dengan cengiran khasnya. Akito memang tegas, namun tidak pada adiknya yang satu ini. Karena Akito tahu bahwa Namika adalah anak yang sangat rajin.
“Akito-nii! Apa kau bawa pesananku 8 bulan yang lalu?!” kata Namika sambil melepas pelukannya lalu menadah tangannya seperti gaya kakak kelas yang sering memalak adik kelasnya. Akito tersenyum.
“Tentu saja, Dango yang manis kesukaan Nami” Kata Akito tersenyum lembut sambil mengeluarkan sebuah kotak yang berisi kue manis dari jepang. Dango.
“Assssiiikkk!! Terima kasih! Sayang… Akito-nii!” girang Namika sambil menyambar kotak yang bahkan belum Akito ulurkan padanya lalu ia buka kotak tersebut dan melahap satu persatu isinya. Melihat itu, Akito hanya bisa tersenyum.
“oh iya, dimana Ami?” Tanya Akito beberapa menit kemudian saat mereka tengah duduk di sofa ruang tamu.
“Uhm, Akito-nii tahulah. Seperti biasa” jawab Namika sibuk memakan kue dangonya. Akito menghela nafas panjang.
“haaah, dia itu.”
.
.
.
“Sudah sore, aku mau mandi ah” ucap Namika yang sedang sibuk membenahi laptopnya.
“HEI NAMIKA!! KAU TARUH DIMANA SEPATUKU?!!” teriak Akito dari ruang depan dimana pintu keluar rumah berada. NAmika hanya terkekeh karena tadi siang ia menyembunyika sepatu kakaknya. Akito pun memasuki kamar NAmika.
“Namika, katakana padaku. Dimana sepatuku hah?” kata Akito sambil terengah-engah.
“Kusembunyikan!” iseng Namika. Akito pun menyeringai.
“Disembunyikan yah” Kata Akito lalu bergegas mencari sepatunya itu dikamar Namika yang serba pink itu. Siapa tahu Namika menyembunyikan sepatu Akito dikamarnya.
“Kau tak akan menemukannya Akito-nii” ledek Namika.
“oh ya? Mari kita buktikan” kata Akito tak mau kalah.
.
.
.
.
Sudah 40 menit Akito mencari sepatunya di rumah. Tapi tak kunjung menemukannya.
“aaah, ini sepatumu Akito-nii.” Kata Namika mulai bosan dan mengantuk karena memperhatikan Akito yang hanya bolak-balik dari ruangan 1 keruangan lainnya.
“huffth…” hela nafas Akito.
“Aku pulang!” terdengar suara Ami dari pintu depan rumah.
“Ami-neeChan!” seru Namika.
.
.
.
(keesokan harinya)
Seperti biasa, Ami kakak Namika pergi pagi pulang sore. Kali ini Namika sendiri karena Akito sedang pergi bersama teman-teman lamanya. Sebenarnya Namika di ajak oleh Akito namun Namika menolak karena takut merepotkan kakaknya. Namika pun merasa sangat bosan lalu ia memutuskan untuk jalan-jalan pagi.

“sejuknya” gumam Namika berada diatas bukit yang tidak jauh dari rumahnya.
“Namika!” panggil seorang gadis. Namika pun menoleh dan terlihatlah seorang gadis bersurai indigo sepinggul berlari mendekatinya.
“Ah! Yuika!” kata Namika menyapa temannya yang bernama Yuika.
“hei, sedang apa kau disini sendirian?” Tanya Yuika saat sudah didekat Namika. Namika tersenyum simpul.
“jalan-jalan! Hitung-hitung bisa melihat cahaya matahari pagi dengan jelas” ceria Namika.
“oh, begitu ya. Kalau begitu, aku pergi dulu. Akira-nee pasti menungguku” kata Yuika berpamitan pada Namika lalu berjalan pergi.
“oke, .. Eh! Yuika! Tunggu!” kata Namika membuat langkah kecil Yuika berhenti.
“uhm.. ada apa?” Tanya Yuika menoleh kebelakang.
“Anoo, Terima kasih sudah menjadi sahabatku!” kata Namika dengan semangat. Yuika memasang raut bingung.
“eh? Ada apa denganmu?” bingung Yuika. Namika menaikan kedua bahunya.
“entah! Tapi aku hanya ingin mengatakan ini saja. Hahaha.. oh iya, jika aku tidak bisa melihatmu lagi.. aku minta maaf ya?!” ucap Namika yang membuat Yuika semakin bingung. Namun Yuika hanya mengiyakan ucapan Namika dengan satu anggukan. Tiba-tiba seorang gadis bersurai indigo sebahu datang. Kakak Yuika.
“Yui, ayo.” Ucapnya lemah lembut. Yuika langsung membungkuk pamit ke Namika lalu berjalan kearah kakaknya.
Namika kini sendiri lagi. ia berjalan di bukit sambil memandangi matahari pagi dengan seksama. Tanpa ia sadari, ada sebuah batu kecil yang membuat dirinya terpeleset jatuh menggelinding ke bawah bukit. Terbentur batu, tertusuk ranting pohon dan tergores rumput liar yang kasar. Namika menjerit sekeras mungkin. Yuika dan kakaknya yang masih belum jauh dari situ langsung menghampiri suara Namika.
.
.
.
(hospital)
Namika belum juga sadarkan diri setelah ia dibawa kerumah sakit oleh ambulance yang dipanggil oleh Yuika. Namika mengalami pendarahan kepala dan mata yang hebat hingga ia tak sadarkan diri begitu lama.
“Namika, sadarlah.” Ucap Akito yang beberapa menit lalu datang setelah di telfon oleh Akira, kakak Yuika sekaligus teman dari Akito.
Beberapa menit kemudian,Namika sadarkan diri. Ia menringis perih sambil memegangi kepalanya yang diperban.
“hey, kenapa mataku diperban?” ucap Namika dengan suara yang serak.
“Akito-nii! Ami-nee!” panggil Namika dengan nada yang agak meninggi.
“Kami disini, Namika. Kau jangan banyak bergerak” Kata Ami sambil melepas perban di mata Namika.
“Akhirnya aku bisa melihat semuanya” ucap Namika senang. Namun, mata emeraldnya tak melihat apa-apa. Hanya kegelapan.
“H..Hey! j..jangan matikan lampunya..” ucap Namika bingung. Yang lainnya hanya terdiam dengan wajah sedih. Bahkan Yuika sampai menangis.
“ja..jangan bercanda! Aku tidak suka” ucap Namika lagi sambil meraba udara.
“Nami.. “ gumam pelan Akira.
“Namika, m..maaf. kau.. tidak bisa..” ucap ragu Ami sambil memegang bahu adiknya.
“Ha? Tidak bisa apa?” Tanya Namika.
“tidak bisa.. melihat lagi” sambung Ami dengan air mata yang mengalir. Bagaikan di sambar petir, hati Namika sakit setelah mendengar perkataan kakaknya. Akito memeluk Namika bermaksud untuk menenangkannya. Suara isakan tangis dari Namika terdengar sangat menyedihkan.
“tidak.. ini.. bohong.. hiks hiks aku tidak mau begini..” ucap Namika disela tangisnya.
“Maaf, tapi ini sudah terjadi” ucap pelan Akito di dekat telinga Namika. Mendengar itu, isakan Namika makin bertambah.
“jadi.. hiks yang tadi pagi itu.. hiks hiks.. cahaya matahari terakhirku..” kata Namika serak sambil menangis.
Owari!
(ahh, ga je ya? Hehehe maafkan Mochi :* kalau ada kritik dan saran harap tinggalkan komen ^^)


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Mochine Chan - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -