Posted by : Mochine Aika Saturday, 18 February 2017

Genre : Horror(?)Comedy(?)

 Pada suatu hari, Aku dan ke empat Temanku sedang berbaring di lantai kamarku. Selesai mengerjakan tugas bersama kami bingung ingin melakukan apa lagi. karena merasa sangat bosan, salah satu temanku memulai pembicaraan. Temanku bilang ia ingin bercerita. Sontak Aku dan ke tiga temanku lainnya langsung duduk dan mempersilahkan salah satu temanku itu untuk bercerita. Sebut saja temanku yang ingin bercerita itu namanya Atika. Atika pun mengubah posisinya menjadi duduk tegap menghadap Aku dan ke tiga temanku yang bernama Putri,Reni dan Kinanti. Atika bercerita bahwa pada zaman dahulu ada lima orang pemuda yang sedang mendaki gunung es. Namun karena suhu di gunung es itu sangat dingin, salah satu dari lima pemuda tadi tidak kuat menahan dingin dan akhirnya meninggal karena kedinginan. Sisa empat pemuda yang masih bertahan di gunung es tersebut. Namun, mereka bingung harus di apakan jasad teman mereka itu. Mereka berpikir bahwa jika menguburnya, mereka tidak akan sanggup menggali di es. Pada hari itu juga mereka menemukan sebuah kuil tua yang terletak di pedalaman gunung es tersebut. Akhirnya, mereka memutuskan untuk meletakan jasad temannya di dalam kuil tersebut. Saat mereka meletakan jasad temannya di tengah ruangan kuil,salah satu dari mereka memberi usulan untuk mengitari jasad temannya dari sudut ruangan tersebut agar arwah temannya tenang. Yang lainnya pun setuju, pada saat itu juga Ke empat pemuda itu masing-masing sudah berdiri di sudut ruangan kuil. Lalu, mereka mengitari jasad temannya sebanyak tiga kali dengan cara berjalan dari sudut ke sudut lainnya lalu menepuk bahu teman masing-masing.
 Selesai Atika bercerita, Aku langsung mempunyai ide untuk menjahili temanku sekaligus bisa bermain dengan mereka. “Hei, bagaimana jika kita bermain sebuah permainan? Namanya Hantu 4 sudut! Cara bermainnya sama seperti dalam ceritannya Atika. Aku berperan menjadi mayat saja. Nah,kalian berempat mengitari aku sebanyak tiga kali sambil berjalan dan menepuk bahu orang selanjutnya! Bagaimana?” Kataku pada mereka. Kulihat ekspresi mereka yang berbeda-beda. Mulai dari Putri yang berpikir dengan pose tangan di dagu, Atika yang bingung sambil memanyunkan bibirnya serta Reni dan Kinanti yang main lirik-lirikan. Beberapa saat kemudian mereka berempat mengangguk setuju. Terbentuklah senyum simpul dari bibirku. “Baiklah! Nanti malam kalian kumpul di depan rumah kosong dekat kedai es krim yah!” seru ku. Ke empat temanku secara bersamaan mengatakan “Ya!”

 Pada malam harinya, kami berlima sudah berkumpul di depan rumah kosong dekat kedai es krim. Aku membawa satu lilin sebagai satu-satunya alat penerangan kami nanti. Aku pun menjelaskan kepada teman-temanku bahwa saat bermain tidak boleh ada yang mengeluarkan suara sedikit pun dan tidak ada penerangan apa pun saat permainan berlangsung. Sontak mereka memasang raut takut. “Eh! Pasti suasananya serem nih” kata Reni sambil memeluk Kinanti. Kinanti pun mengangguk setuju. Aku menenangkan mereka dan mengatakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Tak lama mereka pun tenang dan bersedia mengikuti permainanku. Kami berlima pun langsung masuk kedalam rumah kosong tersebut dengan penerangan lilin. Saat sudah siap memulai permainan, kami mengambil posisi masing-masing. Aku ditengah ruangan,Atika di sudut satu,Putri sudut dua,Reni sudut tiga dan Kinanti di sudut empat. Aku mematikan cahaya lilin dengan meniup apinya. Permainan pun dimulai. Atika berjalan ke sudut Putri lalu menepuk bahunya, Putri langsung berjalan kesudut Kinanti dan menepuk bahunya sampai seterusnya.


  Beberapa menit sudah berlalu. Kami pun sudah menyelesaikan permainan. Aku menyalakan lilin lagi dengan korek api batangan. Kulihat raut ke empat teman ku yang merasa lega dengan berakhirnya permainan ini. Kami pun pergi dari rumah kosong itu menuju rumahku untuk berkumpul. Saat dikamarku, Kami semua berbaring di lantai. Dan berbincang asik tentang permainan tadi. Tak lama kemudian, Putri langsung memukul pelan lantai dan mengatakan bahwa ada yang janggal dalam permainan tadi. Putri menjelaskan bahwa jika dia menepuk bahu Reni lalu Reni menepuk bahu Kinanti dan Kinanti berjalan kesudut satu yang telah kosong. Lalu bahu siapa yang Kinanti tepuk? Dan siapa yang menepuk bahu Atika selama permainan berlanjut?. Sontak Atika dan Kinanti langsung pucat. Mereka berdua langsung menggenggam tangan satu sama lain. Kulihat Reni dan Putri juga mulai ketakutan. Aku hanya tersenyum jahil saja. Aku diam sambil mengingat kejadian yang sebenarnya. Saat Kinanti berjalan, Aku sudah ada di sudut satu sejak Atika berpindah sudut. Kinanti menepuk bahuku lalu aku berjalan dan menepuk bahu Atika. Intinya, aku juga ikut bermain saat permainan itu berlangsung hingga selesai. Sampai saat permainan selesai, Aku segera berlari ke tengah ruangan dan menyalakan lilin sebagai tanda berakhirnya permainan. Kini aku hanya tersenyum jahil sambil melihat teman-temanku yang ketakutan. 

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Mochine Chan - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -