Archive for February 2017

Genre : hurt(?)

Suatu pagi disebuah rumah, terlihat seorang gadis bersurai cokelat tengah duduk di sebuah kursi dekat jendela yang terbuka.
“Cahaya matahari pagi itu indah sekali”. Katanya sambil memandang keluar jendela.
“Hei! Kau tidak bosan hah?, setiap pagi kau terus memandangi matahari itu!” celoteh sang kakak dari gadis tadi sambil menyisir rambutnya.
“Tidak Ami-neeChan” geleng sang adik sambil tersenyum.
“Hufffth, yasudah. Aku ingin kerumah sakit dulu ya. Jika kau merasa tidak enak sendirian dirumah, jalan-jalan saja dengan temanmu si Yuika itu. Atau jika kau lapar, pergi saja ke kedai Ramen” Kata Kakaknya yang bernama Ami itu. Sang adik pun mengangguk.
“oke! Dadah Namika…” kata Ami lalu pergi meninggalkan Namika sang adik dirumah sendirian.
“Huffth! Kenapa Ami-neeChan selalu meninggalkanku? Padahal, aku tahu kalau hari ini dia libur dari tugas rumah sakitnya. Bilang saja jika dia mau pergi kerumah Kyouya-nii! Huh” Namika cemberut sambil berceloteh tentang kakaknya itu. Saat Namika sedang berceloteh tidak jelas, pintu rumahnya terbuka dan menampakkan seorang laki-laki bersurai cokelat gelap. Melihat itu, raut wajah Namika yang cemberut langsung berubah drastic menjadi sangat ceria.
“Akito-nii!!!” jerit riang Namika berdiri lalu berlari kearah laki-laki itu kemudian memeluknya. Akito adalah kakak laki-laki Namika yang sangat tegas dan baik hati.
“Wah, sepertinya kau rindu sekali denganku”. Ucap Akito sambil membalas pelukan adiknya lalu mengelus kepala Namika dengan sangat lembut.
“Tentu saja! Akito-nii sudah pergi selama 8 bulan tahu!” kata Namika.
“Selama itu kah? Hehehe, maaf yah” Kata Akito dengan cengiran khasnya. Akito memang tegas, namun tidak pada adiknya yang satu ini. Karena Akito tahu bahwa Namika adalah anak yang sangat rajin.
“Akito-nii! Apa kau bawa pesananku 8 bulan yang lalu?!” kata Namika sambil melepas pelukannya lalu menadah tangannya seperti gaya kakak kelas yang sering memalak adik kelasnya. Akito tersenyum.
“Tentu saja, Dango yang manis kesukaan Nami” Kata Akito tersenyum lembut sambil mengeluarkan sebuah kotak yang berisi kue manis dari jepang. Dango.
“Assssiiikkk!! Terima kasih! Sayang… Akito-nii!” girang Namika sambil menyambar kotak yang bahkan belum Akito ulurkan padanya lalu ia buka kotak tersebut dan melahap satu persatu isinya. Melihat itu, Akito hanya bisa tersenyum.
“oh iya, dimana Ami?” Tanya Akito beberapa menit kemudian saat mereka tengah duduk di sofa ruang tamu.
“Uhm, Akito-nii tahulah. Seperti biasa” jawab Namika sibuk memakan kue dangonya. Akito menghela nafas panjang.
“haaah, dia itu.”
.
.
.
“Sudah sore, aku mau mandi ah” ucap Namika yang sedang sibuk membenahi laptopnya.
“HEI NAMIKA!! KAU TARUH DIMANA SEPATUKU?!!” teriak Akito dari ruang depan dimana pintu keluar rumah berada. NAmika hanya terkekeh karena tadi siang ia menyembunyika sepatu kakaknya. Akito pun memasuki kamar NAmika.
“Namika, katakana padaku. Dimana sepatuku hah?” kata Akito sambil terengah-engah.
“Kusembunyikan!” iseng Namika. Akito pun menyeringai.
“Disembunyikan yah” Kata Akito lalu bergegas mencari sepatunya itu dikamar Namika yang serba pink itu. Siapa tahu Namika menyembunyikan sepatu Akito dikamarnya.
“Kau tak akan menemukannya Akito-nii” ledek Namika.
“oh ya? Mari kita buktikan” kata Akito tak mau kalah.
.
.
.
.
Sudah 40 menit Akito mencari sepatunya di rumah. Tapi tak kunjung menemukannya.
“aaah, ini sepatumu Akito-nii.” Kata Namika mulai bosan dan mengantuk karena memperhatikan Akito yang hanya bolak-balik dari ruangan 1 keruangan lainnya.
“huffth…” hela nafas Akito.
“Aku pulang!” terdengar suara Ami dari pintu depan rumah.
“Ami-neeChan!” seru Namika.
.
.
.
(keesokan harinya)
Seperti biasa, Ami kakak Namika pergi pagi pulang sore. Kali ini Namika sendiri karena Akito sedang pergi bersama teman-teman lamanya. Sebenarnya Namika di ajak oleh Akito namun Namika menolak karena takut merepotkan kakaknya. Namika pun merasa sangat bosan lalu ia memutuskan untuk jalan-jalan pagi.

“sejuknya” gumam Namika berada diatas bukit yang tidak jauh dari rumahnya.
“Namika!” panggil seorang gadis. Namika pun menoleh dan terlihatlah seorang gadis bersurai indigo sepinggul berlari mendekatinya.
“Ah! Yuika!” kata Namika menyapa temannya yang bernama Yuika.
“hei, sedang apa kau disini sendirian?” Tanya Yuika saat sudah didekat Namika. Namika tersenyum simpul.
“jalan-jalan! Hitung-hitung bisa melihat cahaya matahari pagi dengan jelas” ceria Namika.
“oh, begitu ya. Kalau begitu, aku pergi dulu. Akira-nee pasti menungguku” kata Yuika berpamitan pada Namika lalu berjalan pergi.
“oke, .. Eh! Yuika! Tunggu!” kata Namika membuat langkah kecil Yuika berhenti.
“uhm.. ada apa?” Tanya Yuika menoleh kebelakang.
“Anoo, Terima kasih sudah menjadi sahabatku!” kata Namika dengan semangat. Yuika memasang raut bingung.
“eh? Ada apa denganmu?” bingung Yuika. Namika menaikan kedua bahunya.
“entah! Tapi aku hanya ingin mengatakan ini saja. Hahaha.. oh iya, jika aku tidak bisa melihatmu lagi.. aku minta maaf ya?!” ucap Namika yang membuat Yuika semakin bingung. Namun Yuika hanya mengiyakan ucapan Namika dengan satu anggukan. Tiba-tiba seorang gadis bersurai indigo sebahu datang. Kakak Yuika.
“Yui, ayo.” Ucapnya lemah lembut. Yuika langsung membungkuk pamit ke Namika lalu berjalan kearah kakaknya.
Namika kini sendiri lagi. ia berjalan di bukit sambil memandangi matahari pagi dengan seksama. Tanpa ia sadari, ada sebuah batu kecil yang membuat dirinya terpeleset jatuh menggelinding ke bawah bukit. Terbentur batu, tertusuk ranting pohon dan tergores rumput liar yang kasar. Namika menjerit sekeras mungkin. Yuika dan kakaknya yang masih belum jauh dari situ langsung menghampiri suara Namika.
.
.
.
(hospital)
Namika belum juga sadarkan diri setelah ia dibawa kerumah sakit oleh ambulance yang dipanggil oleh Yuika. Namika mengalami pendarahan kepala dan mata yang hebat hingga ia tak sadarkan diri begitu lama.
“Namika, sadarlah.” Ucap Akito yang beberapa menit lalu datang setelah di telfon oleh Akira, kakak Yuika sekaligus teman dari Akito.
Beberapa menit kemudian,Namika sadarkan diri. Ia menringis perih sambil memegangi kepalanya yang diperban.
“hey, kenapa mataku diperban?” ucap Namika dengan suara yang serak.
“Akito-nii! Ami-nee!” panggil Namika dengan nada yang agak meninggi.
“Kami disini, Namika. Kau jangan banyak bergerak” Kata Ami sambil melepas perban di mata Namika.
“Akhirnya aku bisa melihat semuanya” ucap Namika senang. Namun, mata emeraldnya tak melihat apa-apa. Hanya kegelapan.
“H..Hey! j..jangan matikan lampunya..” ucap Namika bingung. Yang lainnya hanya terdiam dengan wajah sedih. Bahkan Yuika sampai menangis.
“ja..jangan bercanda! Aku tidak suka” ucap Namika lagi sambil meraba udara.
“Nami.. “ gumam pelan Akira.
“Namika, m..maaf. kau.. tidak bisa..” ucap ragu Ami sambil memegang bahu adiknya.
“Ha? Tidak bisa apa?” Tanya Namika.
“tidak bisa.. melihat lagi” sambung Ami dengan air mata yang mengalir. Bagaikan di sambar petir, hati Namika sakit setelah mendengar perkataan kakaknya. Akito memeluk Namika bermaksud untuk menenangkannya. Suara isakan tangis dari Namika terdengar sangat menyedihkan.
“tidak.. ini.. bohong.. hiks hiks aku tidak mau begini..” ucap Namika disela tangisnya.
“Maaf, tapi ini sudah terjadi” ucap pelan Akito di dekat telinga Namika. Mendengar itu, isakan Namika makin bertambah.
“jadi.. hiks yang tadi pagi itu.. hiks hiks.. cahaya matahari terakhirku..” kata Namika serak sambil menangis.
Owari!
(ahh, ga je ya? Hehehe maafkan Mochi :* kalau ada kritik dan saran harap tinggalkan komen ^^)


Fanfiction - Last Sunlight

Posted by : Mochine Aika 0 Comments
Genre : Horror(?)Comedy(?)

 Pada suatu hari, Aku dan ke empat Temanku sedang berbaring di lantai kamarku. Selesai mengerjakan tugas bersama kami bingung ingin melakukan apa lagi. karena merasa sangat bosan, salah satu temanku memulai pembicaraan. Temanku bilang ia ingin bercerita. Sontak Aku dan ke tiga temanku lainnya langsung duduk dan mempersilahkan salah satu temanku itu untuk bercerita. Sebut saja temanku yang ingin bercerita itu namanya Atika. Atika pun mengubah posisinya menjadi duduk tegap menghadap Aku dan ke tiga temanku yang bernama Putri,Reni dan Kinanti. Atika bercerita bahwa pada zaman dahulu ada lima orang pemuda yang sedang mendaki gunung es. Namun karena suhu di gunung es itu sangat dingin, salah satu dari lima pemuda tadi tidak kuat menahan dingin dan akhirnya meninggal karena kedinginan. Sisa empat pemuda yang masih bertahan di gunung es tersebut. Namun, mereka bingung harus di apakan jasad teman mereka itu. Mereka berpikir bahwa jika menguburnya, mereka tidak akan sanggup menggali di es. Pada hari itu juga mereka menemukan sebuah kuil tua yang terletak di pedalaman gunung es tersebut. Akhirnya, mereka memutuskan untuk meletakan jasad temannya di dalam kuil tersebut. Saat mereka meletakan jasad temannya di tengah ruangan kuil,salah satu dari mereka memberi usulan untuk mengitari jasad temannya dari sudut ruangan tersebut agar arwah temannya tenang. Yang lainnya pun setuju, pada saat itu juga Ke empat pemuda itu masing-masing sudah berdiri di sudut ruangan kuil. Lalu, mereka mengitari jasad temannya sebanyak tiga kali dengan cara berjalan dari sudut ke sudut lainnya lalu menepuk bahu teman masing-masing.
 Selesai Atika bercerita, Aku langsung mempunyai ide untuk menjahili temanku sekaligus bisa bermain dengan mereka. “Hei, bagaimana jika kita bermain sebuah permainan? Namanya Hantu 4 sudut! Cara bermainnya sama seperti dalam ceritannya Atika. Aku berperan menjadi mayat saja. Nah,kalian berempat mengitari aku sebanyak tiga kali sambil berjalan dan menepuk bahu orang selanjutnya! Bagaimana?” Kataku pada mereka. Kulihat ekspresi mereka yang berbeda-beda. Mulai dari Putri yang berpikir dengan pose tangan di dagu, Atika yang bingung sambil memanyunkan bibirnya serta Reni dan Kinanti yang main lirik-lirikan. Beberapa saat kemudian mereka berempat mengangguk setuju. Terbentuklah senyum simpul dari bibirku. “Baiklah! Nanti malam kalian kumpul di depan rumah kosong dekat kedai es krim yah!” seru ku. Ke empat temanku secara bersamaan mengatakan “Ya!”

 Pada malam harinya, kami berlima sudah berkumpul di depan rumah kosong dekat kedai es krim. Aku membawa satu lilin sebagai satu-satunya alat penerangan kami nanti. Aku pun menjelaskan kepada teman-temanku bahwa saat bermain tidak boleh ada yang mengeluarkan suara sedikit pun dan tidak ada penerangan apa pun saat permainan berlangsung. Sontak mereka memasang raut takut. “Eh! Pasti suasananya serem nih” kata Reni sambil memeluk Kinanti. Kinanti pun mengangguk setuju. Aku menenangkan mereka dan mengatakan bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Tak lama mereka pun tenang dan bersedia mengikuti permainanku. Kami berlima pun langsung masuk kedalam rumah kosong tersebut dengan penerangan lilin. Saat sudah siap memulai permainan, kami mengambil posisi masing-masing. Aku ditengah ruangan,Atika di sudut satu,Putri sudut dua,Reni sudut tiga dan Kinanti di sudut empat. Aku mematikan cahaya lilin dengan meniup apinya. Permainan pun dimulai. Atika berjalan ke sudut Putri lalu menepuk bahunya, Putri langsung berjalan kesudut Kinanti dan menepuk bahunya sampai seterusnya.


  Beberapa menit sudah berlalu. Kami pun sudah menyelesaikan permainan. Aku menyalakan lilin lagi dengan korek api batangan. Kulihat raut ke empat teman ku yang merasa lega dengan berakhirnya permainan ini. Kami pun pergi dari rumah kosong itu menuju rumahku untuk berkumpul. Saat dikamarku, Kami semua berbaring di lantai. Dan berbincang asik tentang permainan tadi. Tak lama kemudian, Putri langsung memukul pelan lantai dan mengatakan bahwa ada yang janggal dalam permainan tadi. Putri menjelaskan bahwa jika dia menepuk bahu Reni lalu Reni menepuk bahu Kinanti dan Kinanti berjalan kesudut satu yang telah kosong. Lalu bahu siapa yang Kinanti tepuk? Dan siapa yang menepuk bahu Atika selama permainan berlanjut?. Sontak Atika dan Kinanti langsung pucat. Mereka berdua langsung menggenggam tangan satu sama lain. Kulihat Reni dan Putri juga mulai ketakutan. Aku hanya tersenyum jahil saja. Aku diam sambil mengingat kejadian yang sebenarnya. Saat Kinanti berjalan, Aku sudah ada di sudut satu sejak Atika berpindah sudut. Kinanti menepuk bahuku lalu aku berjalan dan menepuk bahu Atika. Intinya, aku juga ikut bermain saat permainan itu berlangsung hingga selesai. Sampai saat permainan selesai, Aku segera berlari ke tengah ruangan dan menyalakan lilin sebagai tanda berakhirnya permainan. Kini aku hanya tersenyum jahil sambil melihat teman-temanku yang ketakutan. 

Cerpen - Ghost Four Corners

Posted by : Mochine Aika 0 Comments

- Copyright © Mochine Chan - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -