Archive for March 2017



sesuai kata mhanx Indra Mulyawan :v suruh Next! nah ini Ch2 dari Just Be Friend. Hope U Like it! 💋👍


“Misa!” panggil Rika pada Misa yang tengah berbinar menatap Rei yang sedang duduk di kursinya.
“ha?” kata Misa tanpa menoleh ataupun melirik. Rika menghela nafas panjang berharap semua siswi dikelasnya berhenti bersikap alay nan lebay hanya karena seorang laki-laki bernama Anzella Rei. Segera Rika berdiri dan menepuk pundak temannya lalu mencengkramnya dengan kuat. Misa terkejut kemudian meringis sakit seraya memiringkan tubuhnya kekanan berharap Rika melepaskan cengkramannya itu.
“ah! Sakit! Sakit!” ringis Misa sambil memberontak. Tanpa ampun, Rika terus mencengkram bahu MIsa.
“Sakit! Ah! Lepas!” kasar Misa seraya menepis keras tangan Rika. Tatapan Misa terlihat begitu tajam sedangkan Rika hanya menatap datar Misa.
“dasar!” bentak Misa kemudian berlari menuju pintu kelas dan keluar kelas begitu saja menyisakan pandangan heran para siswa dan siswi yang menuju kearah Rika. Beberapa Siswi terlihat berbisik-bisik. Merasa mulai jengkel dan muak, Rika duduk kembali ke kursinya kemudian menendang meja di depannya hingga terhempas jauh. Bahkan jatuh membentur lantai.
BRAAAK!
Rika melirik kearah siswa siswi dengan tatapan tajam beraura membunuh. Merasa ancaman mematikan dari Rika semua pun kembali seperti semula seolah tak terjadi apa-apa. Rika mendesah kesal. Melirik kearah Rei yang tengah memperhatikannya dengan tampang bingung.
“apa?” datar Rika pada Rei yang spontan langsung membenarkan kacamata berframe kotak hitam miliknya.
“ah.. enggak” ucap pelan Rei.

TENG!

 Selang beberapa jam, bel istirahat berbunyi nyaring dan membuat sebagian murid berhamburan keluar kelas menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang mengaung lapar. Sebagian murid lainnya, memilih untuk diam dikelas, membaca buku, mengobrol dengan teman, memakan bekal, dan bercanda ria. Rika mengeluarkan sumpit pink miliknya dan memakan bento buatan ibunya dengan lahap. Misa terlihat tenang membaca buku di depan Rika. Semenjak insiden tadi pagi, Mereka hanya saling berdiaman hingga jam istirahat ini. Manik kehijauan milik Rika mendapatkan dua siswi yang berjalan kearanya dan duduk disampingnya.
“Hei, Rika, Boleh Kami makan bekal bersamamu?” Tanya salah seorang gadis berkacamata dengan nada gugup. Rika menatap mereka dengan tatapan heran. Tumben sekali baginya ada yang mengajak makan bekal bersama. Rika menelan bentonya kemudian mengangguk.
“ya, boleh aja. Kenapa enggak?” datar Rika seraya bergeser memberikan lapak untuk dua gadis disampingnya. Terlihat senyuman simpul dibibir kedua gadis tadi. Melihat itu, Rika tersenyum tipis membalas senyuman mereka. Sesaat Rika dan dua gadis itu makan bersama, mengobrol dan bercanda ria, Misa berdehem begitu keras dan berdiri. Melihat itu, Rika mendecak.
“ck! Ngerasa keganggu nona?” ucap Rika kemudian memakan bento nya lagi. si gadis berkacamata itu melihat Misa dan Rika secara bergantian. Misa menghela nafasnya.
“hei-hei.. Misa, jika ingin makan bersama.. si-silahkan.. kami tidak bermaksud..—“ ucap gadis berkacamata itu  terpotong oleh Misa yang memukul meja.
BAAK!
“siapa yang peduli?! Hah? Kalau mau, kalian bisa ambil Rika ku! Because! I Don’t Care!” lantang Misa kemudian berlari lagi meninggalkan kelas. Kedua gadis tersebut secepat kilat menoleh kearah Rika yang menghabiskan bentonya dengan  santai kemudian menutup kotak bekalnya dan menaruhnya dikolong meja.
“kalian gak perlu khawatir. Misa emang begitu kok dari SMP. Nanti juga balik ceria lagi. nah! Sekarang… aku mesti nyusul dia.. pasti dia ada di atap sekolah.” Ucap Rika dengan nada malas lalu berdiri.
“hm, gitu yah? Kalo gitu, semangat Rika! Buat dia ceria lagi!” kata gadis satunya menyemangati Rika. Rika tersenyum simpul kemudian mengacungkan ibu jarinya pada gadis itu.
“dah..” kata Rika melambai kecil danberjalan menuju pintu kelas.
“oy! Rika!!” panggil gadis berkacamata tadi membuat langkah kecil Rika terhenti dan menoleh kearah gadis itu yang kini berjalan kearahnya sambil menyerahkan sekotak bekal kecil.
“Misa pasti gak bawa bekal. Ini udah kupisahin bekalku. Kasih dia yah” ucap gadis berkacamata itu. Dengan senyuman sambil menerima bekal, Rika berterima kasih kemudian berlari menjumpai Misa di atap gedung sekolah. Mengapa Rika tahu? Karena tidak ada tempat lain bagi Misa disaat situasi begini.
……
“Misa!” panggil Rika saat menemukan Misa diatap gedung sekolah tengah membaca buku dekat pembatas pinggir. Merasa terpanggil dengan suara yang tak asing, Misa menutup bukunya dan diam tanpa menoleh.
“maaf yah! Aku udah berlebihan” kata Rika sambil berlari menghampiri Misa dan memberikan bekal padanya. Misa hanya menatap polos Rika.
“maaf? Untuk apa?” ucap pelan Misa. Rika tersenyum miris, tahu apa yang akan dikatakan Misa. Sejak SMP Misa memang seperti ini. Selalu cepat melupakan masalah. Tanpa ba-bi-bu, Rika menarik tangan Misa dan menaruh bekal ditangannya. Kini mata Misa terlihat berbinar ria.
“Hwahhh! Makasih!” ucap Misa dengan nada ceria seperti biasanya. Lagi-lagi Rika tersenyum miris.
“itu bekal dari Mhyta. Nanti dikelas kamu mesti bilang makasih sama dia.” Datar Rika sambil mengibaskan rambutnya yang agak berantakan. Misa mengangguk semangat kemudian membuka kotak bekal kecil itu.
“Uwooh! Gile! Bekalnya Myhta ajib!! Donat cokelat! Uohohoho!” teriak Misa norak dan berjerit alay. Rika menghela nafas lega karena temannya sudah kembali seperti semula lagi. alay dan berisik.
.......
Kini kelas telah sepi, sesudah bel pulang berbunyi. Keheningan menyelimuti suasana kelas 2-A. Rika yang masih diam di kelas, asik membaca buku novelnya yang sering ia bawa kemana pun, dimanapun. Mungkin seluruh murid disekolah ini sudah pulang. Mungkin!. Misa pun pulang duluan karena Rika yang menyuruhnya. Inilah yang sering dilakukan Rika sepulang sekolah. Membaca novel hingga matahari hampir terbenam sepenuhnya. Tampang Rika sama sekali tidak menunjukan kefokusan. Ia masih terpikir pekataan Misa saat jam istirahat di atap sekolah.
‘uhm! Aku suka sama dia! banget! Rei emang yang terbaik!’
Rika menghela nafas kemudian menunduk dan menyeringai. Benar apa yang Rika pikirkan mengenai Misa. Merasa tidak nafsu membaca novel, Rika memutuskan untuk pulang. Waktu menunjukan pukul 16.53 a.m.
“haaah… Misa, ada ada aja deh” kata Rika pelan entah pada siapa sambil memasukan novelnya kedalam tas. Sesaat berdiri dan hendak berjalan menuju pintu kelas, Rika dikejutkan oleh seorang laki-laki yang tiba-tiba masuk kekelasnya tanpa permisi ataupun gaya sopan lainnya. Ia mendobrak pintu kelas, masuk secepat kilat, menutup pintu secara kasar dan bersandar didinding sambil memejamkan matanya. Serasa melihat berandalan pasar, Rika terbelalak seketika melihat gaya laki-laki didepannya. Bahkan bagi Rika laki-laki ini sangat tidak asing. Namun, penampilannya berbeda 180 derajat dari biasanya.
“Rei!”kaget Rika sambil menyebut nama Laki-laki itu yang ternyata adalah Rei. Ketua kelasnya. Rei membuka pandangannya dan terbelalak juga melihat Rika didepannya. Rei pikir tidak akan ada siapa pun lagi dikelasnya karena sekarang sudah lewat jam pulang. Rei meneguk liurnya sadar bahwa penampilannya saat ini amat buruk untuk dilihat orang lain. Bahkan reputasinya bisa turun.

“Ri-Rika!” gagap Rei seraya menunjuk Rika.

To Be Continued 
tunggu kelanjutannya yah :v 
salam Mochine Kawaii :v pret
😅😎

Cerbung - Just Be Friend Ch2

Posted by : Mochine Aika 0 Comments
Just Be Friend


‘Berteman saja! Ya berteman! Walau menyakitkan! Berteman saja!’

Pagi cerah telah tiba disambut oleh kesibukan orang-orang biasanya. Suasana kota sedikit demi sedikit menjadi ramai dan padat orang serta kendaraan. Rika, gadis berumur 16 tahunan tengah berjalan santai di trotoar jalan sambil memakan roti berselai cokelat. Sesekali ia harus menghindari tabrakan kecil yang dilakukan oleh beberapa orang yang terlihat terburu-buru. Pandangannya begitu sayu. Manik kehijauan miliknya terus memandang kearah depan. Fokus.
“Andai saja aku tidak ceroboh, pasti aku tidak akan salah membaca jam tadi” gumamnya pelan sambil mengambil sebotol air mineral dari tas sekolahnya. Ia teguk air itu hingga menyisakan setengah botol. Ya, kini Rika tengah berjalan menuju sekolah. Langkah kecilnya seketika berhenti ketika melihat sesuatu yang tak asing baginya. Surai pirang sebahu dan tas merah dengan garis hitam. Rika menghela nafas malas tahu bahwa itu adalah teman sekelasnya sekaligus temannya sejak menduduki bangku SMP. Dengan langkah yang ogah-ogahan Rika menyusul si surai pirang itu.
“Misa” ucap Rika sambil menepuk bahu si pirang yang ternyata bernama Misa. Misa sama sekali tidak menoleh ataupun merespon ucapan Rika. Merasa terabaikan, Rika mengerucutkan bibirnya kemudian melihat kearah wajah Misa. Raut Rika kini menampakan kebingungan. Ekspresi Misa sama sekali tidak menampakan keceriaan seperti hari-hari biasanya. Misa tampak muram dengan tatapan kosongnya. Manik kecoklatannya terlihat redup bagaikan lampu yang akan mati. Expired.
“Rika…” panggil pelan Misa sambil menoleh kearah Rika dengan tatapan menyedihkan. Rika hanya menaikan sebelah alisnya dengan arti ‘ada apa?’. Misa menunduk lalu menghentikan langkahnya.
“Aku harus apa…. Aku.. Aku.. jatuh cinta!”
Serasa mendengar kutukan maut, telinga Rika serasa sakit mendengar perkataan Misa yang meninggi seketika. Diusapnya pelan daun telinga miliknya kemudian menatap Misa tak percaya. Mana mungkin seorang Misa yang ceria,tomboy,benci pada laki-laki bisa jatuh cinta? Apa jangan-jangan Misa tak normal?. Dengan segera Rika menggeleng cepat menghilangkan semua pikiran buruknya.
“jatuh cinta?! Yang benar saja! Dengan siapa?” sembur Rika pada Misa yang kembali berjalan. Misa menoleh kearah lain berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah. Merasa dibuat heran dan penasaran Rika terus memerhatikan Misa hingga tidak sadar kalau di depannya ada tiang listrik.
BRUUK!
Dengan sekali tercium oleh tiang listrik, Rika jatuh terduduk sambil mengelus tulang pipi kanannya dan mengaduh kesakitan. Tanpa mempedulikan pandangan orang lain yang mulai mengarah kepada dua sejoli ini.
“siapa yang menaruh tiang listrik disini hah?!” kesal Rika sambil berdiri dan melihat kanan dan kiri. Dengan bodohnya ia melontarkan pertanyaan itu membuat setiap orang yang mendengar menatapnya dengan tatapan konyol. Melihat kekonyolan temannya, Misa pun segera berbisik pada Rika.
“kau bodoh? Tiang ini memang ada disini sejak lama. Dan lihat! Kau jadi pusat perhatian tau!” bisik Misa sambil menjitak Rika diakhir katanya. Rika meringis sakit dan beralih mengelus kepalanya sambil melihat sekitar. Merasa malu jadi pusat perhatian, Rika segera berjalan cepat meninggalkan tempat itu dengan menarik tangan Misa.


“Hwahh! Malunya aku saat dijalan tadi” ucap Rika sambil mendudukkan dirinya dikursi kelasnya secara kasar. Misa menaruh tas merahnya diatas meja yang berada didepan Rika. Melihat temannya yang memasang tampang konyol dengan sedikit rona merah dipipi. Misa pikir Rika akan masa bodo pada kejadian tadi. Yang Misa kenal Rika adalah orang yang tidak peduli pada apapun kecuali cerita horror dan sadistic.
“kamu sih..-“ ucap Misa terpotong tiba-tiba oleh jejeritan para siswi yang bergerombol didepan pintu masuk kelas. Misa tahu penyebab dari jejeritan alay para siswi tersebut yaitu karena si 2-A Prince. Seketika Misa langsung membereskan rambutnya yang mungkin berantakan menurutnya. Melihat itu, Rika menghela nafas malas. Rika juga tau mengenai penyebab jeritan alay siswi kelas 2-A tapi, Rika sama sekali tidak peduli dengan apa yang dinamakan 2-A prince. Menurutnya itu hanya julukan keberuntungan yang didapat oleh siswa bernama Rei. Memang, Rika akui dia lebih unggul dibandingkan siswa lain di kelas 2-A, kelas dimana Rika selalu menuntut ilmu secara normal. Rei sangat unggul dalam Rank kelas, olahraga dan lainnya. Bahkan hampir semuanya. Dan parasnya juga tampan. Semua itu menjadikan Rika nomor dua dikelasnya dan mendapat julukan Princess Ice. Rika yang selalu cuek,bersikap dingin,jenius dan hampir sama dengan Rei namun ketertutupan Rika yang menjadikannya nomor dua.
Rika menatap malas pintu kelas dan Misa didepannya secara bergantian. Rika sadar bahwa seharusnya Misa menjadi salah satu diantara gerombolan siswi yang menjerit alay itu. Walau Misa sangat membenci laki-laki, Misa sama sekali tidak membenci Rei dan pernah bilang bahwa ia sangat mengaguminya dan rela melakukan apa saja demi Rei. Hei! Tunggu! Apa saja? Jangan-jangan…

TO BE CONTINUED!

Cerbung - Just Be Friend

Posted by : Mochine Aika 2 Comments

- Copyright © Mochine Chan - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -